Buku: Buanglah Demokrasi pada Tempatnya

demokrasi depan

Buku ini ditulis berdasarkan diskusi di social media Twitter, ditambah sumber-sumber lain seperti blog dan Facebook yang terjadi pada awal 2012 sampai pertengahan 2013. Menulis sebuah buku sudah sulit. Apalagi jika bahannya diambil dari social media yang penuh godaan tak tertahankan membalas reply, mention atau chat dengan teman. Tapi bagaimana pun saya ucapkan “terima kasih” kepada semua teman social media saya. Tanpa (gangguan) mereka, buku ini seharusnya bisa selesai tiga bulan lebih awal.

Diskusi yang terjadi di Twitter cukup hangat dan panjang sampai memunculkan dua kubu; prodem (pro demokrasi) dan andem (anti demokrasi). Sebenarnya ada kelompok yang tidak setuju dengan polarisasi dua kubu tadi. Lalu mereka—setidaknya pendirinya—berniat membuat kubu baru yang diklaim lebih mewakili sikap politik mereka, yang tidak sepenuhnya pro atau anti terhadap demokrasi. Kubu baru ini bernama mendem (menunggangi demokrasi). Tapi kelihatannya kubu baru ini kurang mendapat respon di Twitter. Mungkin karena namanya mewakili sifat demokrasi sebenarnya yang sering buat orang mendem (bahasa jawa yang berarti mabuk).

Namun buku ini tidak bermaksud memperuncing perdebatan atau menyudutkan kelompok tertentu. Penulis juga merasa tidak mewakili kubu mana pun, baik ketika berdiskusi di dunia maya atau dunia nyata. Penulis hanya berharap, berbagai gagasan yang berserakan di timeline Twitter bisa dikumpulkan dan disusun kembali dalam bentuk buku agar lebih utuh, sistematis, praktis dibawa-bawa, bisa dipinjam-pinjamkan, dan tahan air. Mengingat sifat Twitter selalu menenggelamkan informasi yang sudah lama berlalu. Berbagai informasi penting pun jadi sulit dilacak dan ditampilkan kembali. Penulis tidak bermaksud menjadikan buku ini semacam kumpulan gagasan final menolak demokrasi. Harapannya buku ini jadi semacam pijakan awal agar diskusi berikutnya tidak mengulang-ulang atau kembali dari nol.

Ketika buku ini selesai ditulis tepat akhir tahun 2013, penulis kemudian ingat tahun 2014 adalah tahun politik. Seperti lazimnya tahun politik, partai-partai hingar bingar mencari simpati dengan berbagai cara. Salah satunya menggunakan simbol dan sentimen agama yang cenderung dipaksakan. Bahkan untuk mendulang dukungan tak jarang partai-partai Islam menggunakan legitimasi dalil dan ayat tertentu. Keadaan diperkeruh dengan tindakan pemerintah yang mewajibkan Pemilu juga menggunakan legitimasi dalil dan ayat tertentu. Akhirnya semua nampak benar karena menggunakan legitimasi dalil dan ayat tertentu. Kalau sudah begini yang jadi korban mereka yang awam terhadap Islam. Nah sikap—dan kegeraman—penulis terhadap demokrasi di buku ini mudah-mudahan bisa jadi pengimbang, di tengah riuh rendahnya pesta demokrasi yang sering buat orang mendem.

 

Yudha Pedyanto  |  @pedyanto

Penulis

Share Button