Dua “Amunisi” untuk men-Charge Pemikiran Dakwah Islam

amunisi-home

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (TQS. An Nahl : 125)

Diplomasi adalah satu keahlian yang sepatutnya dimiliki oleh pengemban dakwah, baik sebagai individu ataupun sebagai representasi kelompok/organisasi massa tertentu, bahkan juga sebagai representasi Islam itu sendiri. Dakwah Islam –terutama yang berkaitan dengan wacana penerapan Syari’ah— akan senantiasa berbenturan dengan realitas masa kini yang sekuler. Sejak kekhilafahan Islam terakhir diruntuhkan di Turki pada tahun 1924, praktis kehidupan Islam yang sebenar-benarnya tidak wujud lagi, yang ada hanyalah sisa-sisa pemikiran dan perasaan dalam benak kaum muslim yang itu pun terus mengalami kemerosotan seiring dengan berjalannya waktu dan pergantian generasi. Hal itu menjadikan Islam makin asing dan Syari’ah Islam seolah-olah makin tidak relevan.

Diplomasi bukanlah seni berbasa-basi, bukan pula bicara tentang bagaimana cara mengelak, mengalihkan pembicaraan, apalagi memutarbalikkan fakta dan melakukan kebohongan. Terlebih lagi dalam rangka menyampaikan Islam, jelas yang diutamakan adalah clarity. Kejelasan, ketegasan, dan keterus-terangan. Sejak era reformasi, dakwah Islam di Indonesia mengalami babak baru. Siapa saja, kapan saja dan di mana saja, dapat dengan bebas ‘mendakwahkan’ apa saja. Inilah babak baru yang tentu sekaligus juga tantangan baru. Tidak jarang kita melihat pengemban dakwah gagap saat harus bicara di depan banyak audience dengan latar belakang yang berbeda-beda. Tidak sedikit pula yang terbata-bata ketika dihadapkan dengan lawan bicara yang menentang idenya.

Muhammad Ismail Yusanto adalah satu dari sedikit tokoh pengemban dakwah senior sekaligus juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia. Beliau banyak menghadapi berbagai situasi politik untuk menyebarkan dan menjelaskan ide-ide Hizbut Tahrir dengan gamblang dan terang. Dengan amanahnya yang berat ini, beliau sering juga dijahili oleh orang-orang dari ragam kalangan pembenci gerakan Hizbut Tahrir. Tapi ketika jalan dakwah sudah menjadi poros hidup, tak gentar sekalipun perjuangannya dalam menyerukan amar makruf nahi mungkar demi terwujudnya kembali Kemuliaan Islam dan Kaum Muslimin. ‘Izul Islam wal Muslimin.

Buku ini merupakan kumpulan catatan dan wawancara dengan narasumber Ust. Ismail Yusanto dalam menyikapi perjalanan jagat perpolitikan Indonesia. Dari isu-su penting  Nasional dan Internasional maupun isu ekonomi, politik, dan budaya yang mewarnai munculnya neo liberalism dan kapitalisme saat ini. Tentunya perjalanan politik yang lebih dari satu dekade itu memberikan pengaruh yang sangat besar bagi perjalanan bangsa maupun sepak terjang Hizbut Tahrir untuk umat. Sehingga kemampuan diplomasi benar-benar dibutuhkan untuk menjadi pemikiran politik sekaligus perjuangan dakwah Hizbut Tahrir dalam tegaknya penerapan syariah.

 “Kalau hidup tidak untuk dakwah, lalu mau untuk apa? Kalau dakwah bukan untuk tegaknya Syari’ah dan Khilafah lalu mau dakwah untuk apa?”

 

M Ismail Yusanto

Penulis

 

Share Button