Yudha Pedyanto

poto

Penulis lahir di Yogyakarta tanggal 8 Agustus 1975, dari seorang bapak insinyur teknik sipil dan seorang ibu guru seni rupa. Sejak SD sampai SMP bersekolah di Manado Sulawesi Utara, lalu kembali ke Jogja. Setelah lulus dari SMA Negeri 8 Yogyakarta, tahun 1994 penulis melanjutkan kuliah di Fakultas Teknik UGM.

Selama kuliah di Jogja inilah penulis belajar ilmu-ilmu keislaman kepada Dwi Condro Triono (HTI), dan belajar Bahasa Arab kepada Muhammad Muslikhin (PP Nurul Ummah). Kemudian pada tahun 1999 penulis mendapatkan ijasah resmi S1 Teknik Elektro UGM, dan ijab-sah resmi dengan Dewi Sekartaji yang juga lulusan Fakultas Ekonomi UGM.

Sejak kecil penulis kurang begitu tertarik dengan dunia tulis menulis. Satu-satunya dunia tulis menulis yang pernah ditekuni adalah tulis menulis program komputer. Hobi mengutak-atik software inilah yang membawa penulis mendirikan Linux Learning Center pada tahun 2001, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa pelatihan dan pembuatan software. Linux Learning Center sempat menggarap project milik beberapa perusahaan Jerman seperti Soluzione dan DaimlerChrysler (sekarang Daimler AG). Sekalipun menulis program dan menulis buku sama-sama membutuhkan logika dan ketekunan luar biasa, menulis program lebih sedikit penderitaannya, tapi menulis buku jauh lebih besar kepuasan batinnya.

Pada tahun 2010, berawal dari keinginan mengenalkan kewirausahaan kepada Salma Fairuz dan Safina Naja—kedua putri penulis yang bersekolah Homeschooling—penulis bersama istri mendirikan usaha kuliner “Nasi Kuning Sambal Tuna”. Berbekal resep warisan keluarga yang sehat dan alami, alhamdulillah sampai saat ini diterima dan digemari banyak kalangan. Sejak saat itu hidup penulis jadi lebih berwarna. Karena jika tidak sedang—dikejar deadline—menyelesaikan software atau buku, penulis biasanya—dikejar istri—membantu masak di dapur.

Pengalaman organisasi yang tak terlupakan bagi penulis—selain pernah menjadi ketua remaja masjid dan ketua senat fakultas teknik—adalah menjadi ketua relawan HTI Tanggap Musibah Merapi tahun 2010. Karena radius bahaya awan panas Merapi yang terus berubah-ubah, penulis bersama tim harus siap siaga mengevakuasi relawan dan pengungsi setiap saat. Saat itu relawan dan pengungsi sempat pindah shelter dua kali, sampai akhirnya menetap di Stadion Maguwoharjo, yang hanya berjarak kurang dari dua kilometer dari rumah penulis. Tim relawan di antaranya bertanggung jawab memberikan mental recovery serta layanan ibadah kepada para pengungsi yang berjumlah lebih dari dua puluh ribu orang. Alhamdulillah, pelaksanaan ibadah lima waktu, shalat Jumat, sampai Idul Adha semuanya tertunaikan dengan khidmat, sekalipun hanya di barak pengungsian.

Di samping bercita-cita menulis lebih banyak buku, penulis juga bercita-cita membuat social media baru. Berbeda dengan Facebook atau Twitter yang lebih fokus kepada pertemanan dan gagasan, social media yang satu ini ini lebih fokus kepada membangun tindakan dan kebiasaan positif. Jika Facebook dan Twitter memungkinkan kita mendapatkan berita atau gagasan baru, mengapa tidak membuat social media yang memungkinkan kita mendapatkan tindakan atau kebiasaan baru? Penulis memimpikan ada social media di mana para penggunanya bisa mencari kebiasaan baru, serta mendapatkan dukungan penuh dari komunitas pencinta kebiasaan tersebut. Apakah itu kebiasaan shalat lima waktu di masjid, membaca Al-Quran, mengenakan hijab, bersedekah, berdakwah, berhenti merokok, push up, berenang, bersepeda dan lain-lain. Dengan adanya dukungan dan motivasi dari komunitas, harapannya mereka lebih konsisten menjalani kebiasaan tersebut.

Saat ini, selain menjalani kegiatan rutin seperti menulis, menjadi guru ngaji dan konsultan teknologi informasi, kegiatan penulis lainnya adalah menjadi salah satu pengasuh “Angkringan Dakwah”; sebuah genre dakwah baru yang memadukan gagasan syariah-khilafah, eksotisme angkringan yang njogjani, dan teknologi live streaming.

Twitter: @pedyanto
Email: pedyanto@gmail.com

Share Button